Pagi Matahariku

Puisi-puisi Belongs2eti

Posted on: Selasa, April 21, 2009

Puisi dan kata terindahmu – Rantauget

Perempuan itu

Aku memuja perempuan itu. Di hadapannya, jutaan katakataku lenyap terhisap ke kedalaman matanya, ribuan warnawarnaku hilang tertelan bening matanya. Aku tak mampu melukisnya.

Aku selalu memuja perempuan itu. Di hadapanku, dialah lukisan Tuhan yang paling sempurna. Dia yang pernah membenamkan tubuhku di rahimnya.

: Ibuku

* Selamat ulang tahun yang ke-61 (8 April). Baktiku untukmu Ibu.

Lelaki itu

Di ambang senja, lelaki itu di sana. Berdiri tengadah ke arah cakrawala. Jarinya yang gemetar sesekali menyentuh dahi, mengusap peluh tanpa keluh. Aku mengenalnya. Dia yang dengan tangannya mampu meretakkan gunung dan menguras lautan. Berharap menemukan sekeping asa, untuk diberikan kepada istri dan anaknya, bahwa esok, Tuhan masih bermurah hati pada mereka.

Kala senja, lelaki itu masih di sana. Menikmati semburat jingga di cakrawala. Bibirnya yang tipis menebar senyum manis. Aku mengenalnya. Dia yang dengan khusyuknya membaca kalam di setiap malam. Berharap menemukan satu pencerahan, untuk dinasehatkan kepada istri dan anaknya, bahwa kelak, setiap dharma yang tertunaikan pasti akan mendapat balasan.

Di tepi senja, lelaki itu tetap setia di sana. Menanti gelap menyelimuti cakrawala. Kakinya yang lemah sesekali oleng menahan berat tubuh rentanya. Wajah tuanya menyiratkan pengalaman hidup yang bersahaja. Aku mengenalnya. Dia yang telah menanam wujudku di rahim ibu.

: Ayahku

Sajak Pak Tua

: Steffanus Olloth Pilling

/1/ Jari gemetar

lelah toreh sejarah:

Senja menepi

(haiku 5-7-5)

/2/Malam kian temaram. Bias cahaya rembulan tak lagi menawan. Bahkan kerlip bintang semakin menghilang, tertutup awan yang berarak beriringan dan mewujud mendung yang menggantung. Kau masih di sini, menikmati malammalammu yang sunyi. Berteman dingin angin yang menghembus perlahan, seirama denyut nadimu yang semakin pelan.

Lalu kau pun akan kembali bercerita, mengurai perjalanan hidupmu yang penuh warna. Tentang masa kecilmu yang nakal dan bahagia di Singkawang sana, hingga masa mudamu yang penuh gejolak di rimba Jakarta. Bertahan hidup dikerasnya Ibukota, bekerja apa saja demi sesuap nasi untuk anak dan istri. Kenangankenangan itu begitu dalam membekas dalam ingatanmu sejelas kerutkerut yang menggurat di kening wajahmu. Iya engkau, wajah tua yang bersahaja, terbungkus tubuh letih yang merintih perih.

Malam semakin kelam. Tangis gerimis melagukan nadanada ritmis. Dingin angin menghembus perlahan. Dan kau masih di sini. Tegar menanti, hingga tiba saat untuk menepi.

Mencoba haiku

/1/ Pagi

Terbit fajar
-terucap syukur sang bekisar
“kukuruyuk”

/2/ Hujan

Tiap tetesmu
Membawa pesan rindu
Memeluk bumi

/3/ Pengemis buntung

Tangan tengadah
Tongkat menopang tubuh
Mengharap receh!

Sri Puji Etiningrum (biasa memakai nama belongs2eti) lahir dan besar di Pemalang. Saat ini bekerja di perusahaan media di Jakarta. Mulai aktif menulis puisi pertengahan tahun 2008. Belum pernah menerbitkan buku. Email : belongs2eti_03@yahoo..com

sumber :KOmpas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Yang Mampir

  • 45,120
%d blogger menyukai ini: