Pagi Matahariku

Puisi – puisi Yuka Fainka Putra

Posted on: Jumat, April 17, 2009

Puisi-Rantauget

1. Pameran Wajah

Pameran wajah di jalan-jalan, di sudut tikungan.
Memamerkan ketakutan, namun tak pemalu,
ada juga yang gemar melucu, menggoda,
kadang genit, uh… mata itu, senyum itu.

Wajah-wajah yang mejeng di jalan seperti menyimpan rahasia.
Menyimpan bom waktu, meledak mencari cinta.

Musim bercinta datang, mari saling menipu.
”Meraptlah, mari berpelukan,
aku kedinginan berbulan-bulan disini,
kecuplah bibir lembut, leher jenjang, teriakan kesunyianmu”

Lama-lama wajah itu mulai tanpak lusuh, sepertinya pata hati,
aku menyapa ia diam saja.
Mungkin sudah merasa asing dan aneh terus diperhatikan,
ditertawakan anak baru gede yang mondar-mandir
kala pentang meyambut.

Tengah malam, ketika tikungan nampak sepi,
dan jalan-jalan sudah sunyi.
Tiba-tiba wajah-wajah itu melompat, satu, dua, tiga, sembilan,
sebalas, dua belas, seratus tiga satu, seribu, dua ribu sembilan.
Mereka terpaksa pulang, bersembunyi di ranjang.

Painan, Januari 2009

2. Sang Pendongeng

Berat menjanjikan sebuh senja padamu, apalagi senja yang sepoi-sepoi dengan sekeranjang puisi yang kita tebar kelaut.
Prosa-prosa yang tak terselesaikan: kini menjadi pagi yang sering membelai-belai rambutku, “bangun sayang, bangun…kita akan kekeranda, nisan yang menggombal”
Nanar yang mencekam dalam ruang malam dan seteguk berita koran pagi.

Pustaka hitam, tempat teman mengerami telur-telur revolusi.
Jejak sejarah racuni kakus jiwa, menjeritlah tanpa suara.
Uh….ternyata dongeng itu kuyup menjadi bahasa lisan yang sempurna.
Senanglah dia sang pendongeng menceritakan paradigma semu tentang dunia.

Hanya di kolom realitas aku bangga menjadi angin.
Diskusi malam yang tak mencapai kesimpulan.
Kita akan bertanya, bertanya, bertanya, belajar.

Aku hanya mengucapkan apa yang telah aku pertahankan.
Batu Sangka

3. Karnaval Sore di Tepi Pantai

Lihat aku sedang melukis laut,
melukisi matahari terbenam dan nelayan yang sedang mengayuh perahunya.
Membaca pasir dan karang, mengukir deretan manusia yang hidup disore.
Tidak dari dekat mereka, aku mulai menghitung di dalam botol yang terguncang-guncang oleh ombak.
Sendiri, sendiri yang menyenangkan.

Aku melihat manusia-manusia dalam kertas, yang bersorak dijajah.
Seperti huruf-huruf yang dipenjara dalam peradaban rezim.
Aku sedang melihat sepasang kekasih yang bercumbu disore, yang menggeliat.
Seperti mereka tau benar cinta itu indah, dan memamfaatkannya sebelum sama-sama menghianati.
Aku melihat orang bermenung, mungkin merenung.
Seperti tau betul sore menyisakan sebaris kata basah, menggenggamanya dalam April hijrah.

Karnaval ibu-ibu berarak, memangil namaku.
“Berbincanglah tentang sore di pantai.
Aku ingin ikut dalam guncangan tahun-tahun, yang kau lalui di ranah ini”.
Karnaval mereka menimbulkan arak-arak panjang dari mata yang menatap.
Mencari kesempatan mengintaiku, dimana, dimana, dimana?
Suara-suara itu selalu bergeter dan bertanya untuk apa aku terus berkata-kata.
“kata-kata adalah pejuang revolusi yang tak pernah punya kepentingan apa-apa dalam perjuangannya, selain kemanusiaan”
Padang

4.Desa Nelayan

Tepat setelah Asar berganti dengan putaran roda,
Kita tinggalkan genting: mata tangis yang tak berair.
Berayun langkah, sembari menghitung kekakuan otak untuk berdiri.
Pada bayang yang terus teringat, pagi dan senja yang selalu menarik.
-Peradaban meningalkan, detik berlalu, membawa terbang kemanusiaan, dan meninggalkan berbungkus-bungkus ruang modrenisasi yang tak terselasaikan: bangunakanlah nelayaku!-

Kita tak akan meninggalkan pegi dan senja, dengan sia-sia.
Apa yang kita sukai, menjadi berarti disana.
Dan selalu pagi dan senja di kota ini: menawarkan secangkir kopi-sam soe:
Ditambah paket diskusi tentang laut.
Kau begitu, bersamangat kalau berbicara tentang nelayan.
Mencatatanya, dikertas senyum nan sinis.

Di mana mereka datang dan pergi.
Dengan jalan gontai, berharap senandung “nenek moyangku seorang pelaut” tetap bergetar di dada putra-putri mereka.
Yang sedang berlayar dengan realality soow.
berlayar dengan impian utopis dihadapan layar kaca.
“ayah ibu kami begitu baik saat, panen ikan berlimpah. Belikan kami TV”

Jelas terbaca, mengapa kini selapas Asar: kau pergi tanpa permisi.

Painan, April 2006

5.Sang Pencatat I

Setiap karya yang lahir menjadi seorang yang bebas berkeliaran.
Menjadi apa diantara sudut kota yang menyisakan lembar-lembar.
Ialah anak pikiran yang mengelinjang, dari hasil catatan peling sederhana hari ini:
sang pencatat: bahasa menjadi peta dan kompas untuk mempertentangkan semua arah.
Painan, Mai 2006

Yuka Fainka Putra. Kelahiran Painan, 5 Juli 1984, Alumni Antropologi Universitas Andalas. Belakangan ini banyak menghabiskan waktu di Perumans Mega Permai, Blok A7 No8. Painan Timur, Painan, Pesisir-Selatan, Sumatra Barat. Bergiat di P-thon Comunitiy Painan, Komunitas KANVAS dan Teater TAMAN Painan. Pendiri Buletin KANVAS, tercatat sebagai pimpinan redaksi pertama beletin tersebut. Beberapa karya penulis (puisi, cerpen dan artikel-artikel sastra-kebudayaan, opini, catatan-catatan dunia mahasiswa) telah dipublikasikan pada KOMPAS.com, Bali Post, Padang Ekspres, Singgalang, Haluan, di Koran Kampus GENTA ANDALAS, Buletin-Buletin Kampus dan Buletin-Buletin Independen (antroACTIVE, KANVAS, Daun, MAQAM, dll). Salah satu karya penulis telah diterbitkan dalam buku Antologi Puisi Sumatera Barat “Dua Episode Pacar Merah”. e-mail: y_yuk011ant@yahoo.co.id / yuka_anakpantai@yahoo.co.id

sumber : http://oase.kompas.com/read/xml/2009/04/17/15260623/Puisi-puisi.Yuka.Fainka.Putra

3 Tanggapan to "Puisi – puisi Yuka Fainka Putra"

terimakasih

Puisine jos tenan…keren!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Yang Mampir

  • 45,121
%d blogger menyukai ini: