Pagi Matahariku

Cinta dimata Tripitaka

Posted on: Jumat, April 17, 2009

Pesan Cinta-Rantauget

Dalam Agama Buddha, pengertian tentang istilah ‘cinta’ diuraikan secara jelas di Karaniyametta Sutta . Karaniyametta Sutta atau kotbah Sang Buddha tentang cinta kasih ini pertama kali diajarkan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu yang sering diganggu mahluk halus. Dikisahkan dalam Dhamma pada suatu masa vassa atau masa tiga bulan musim penghujan saat para bhikkhu berada di satu tempat yang sama, terdapat 500 bhikkhu yang tinggal di sebuah hutan. Hutan tersebut dihuni oleh banyak mahluk halus. Para bhikkhu yang tidak tahan dengan keberadaan mahluk halus itu kemudian menyampaikan hal ini kepada Sang Buddha. Beliau kemudian mengajarkan kepada para bhikkhu untuk mengembangkan cinta kasih dengan mengucapkan Karaniyametta Sutta . Setelah para bhikkhu melaksanakan Ajaran Sang Buddha, maka mahluk halus di hutan itu akhirnya tenang dan bahkan membantu mengkondisikan para bhikkhu mencapai kesucian pada akhir tiga bulan musim penghujan tersebut.

Adapun inti kotbah Sang Buddha tentang cinta kasih atau Karaniyametta Sutta tersebut adalah upaya mengembangkan pikiran cinta kasih dengan sering mengulang dalam batin kalimat : ‘Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia’. Obyek pengembangan pikiran cinta kasih ini ditujukan kepada semua mahluk yang tampak maupun mahluk tak tampak. Pemancaran pikiran cinta kasih dilakukan sepanjang waktu yaitu ketika seseorang sedang duduk, berjalan, berdiri, berbaring, selagi tiada lelap atau tertidur. Berangkat dari pelaksanaan makna ‘cinta’ yang demikian, kiranya telah jelas bahwa pengertian ‘cinta’ dalam Agama Buddha adalah memberi. Memberikan kebahagiaan untuk mereka yang dicintai.

Pengertian cinta adalah memberikan kebahagiaan ini kiranya selaras dengan pengertian pokok Ajaran Sang Buddha tentang Hukum Kamma atau Hukum Sebab dan Akibat. Secara sederhana, Hukum Kamma sering dijelaskan sebagai ‘menanam padi akan tumbuh padi’, mereka yang menanam kebajikan akan tumbuh kebahagiaan. Jadi, dalam pengertian Hukum Kamma, umat Buddha diajarkan untuk bersikap proaktif bukan pasif. Sebagai contoh, ketika seseorang menderita sakit, maka ia bukan hanya menerima kondisi tersebut sebagai buah kamma buruk yang harus dijalaninya, melainkan ia harus berupaya melakukan banyak kebajikan dan usaha agar kamma baik berbuah sesuai dengan harapan yaitu kesembuhan.

Demikian pula dengan cinta. Cinta dalam pengertian Buddhis juga bukan bersifat pasif melainkan proaktif yaitu memberikan kebahagiaan kepada mereka yang dicinta. Jadi, apabila seseorang mulai ‘menanam’ cinta, maka ia pun akan ‘memanen’ cinta dari orang yang dicintai atau orang yang telah ia bahagiakan. Selanjutnya, ketika seseorang mempertanyakan sebab timbulnya niat untuk membahagiakan orang yang dicintainya, mungkin akan diperoleh jawaban bahwa orang tersebut juga telah memberikan perhatian kepadanya. Dengan demikian, berlakulah Hukum Sebab dan Akibat seperti yang telah diterangkan di atas.

Pengertian cinta sebagai memberi kebahagiaan memang lebih mudah diucapkan namun tidak mudah untuk dilaksanakan. Kebanyakan orang sulit membedakan antara cinta dan kebutuhan. Orang sering menyebutkan istilah ‘cinta’ yang sebenarnya menunjukkan bahwa ia ‘membutuhkan’ orang tersebut. Namun, kiranya perbedaan makna cinta ini bisa diperbaiki dengan latihan sedikit demi sedikit melalui pengucapkan kalimat ‘semoga semua mahluk berbahagia’. Seringnya mengucapkan kalimat tersebut akan menambah jumlah orang yang memaknai cinta adalah memberi seperti yang disampaikan dalam Karaniyametta Sutta .

Ketika cinta telah bermakna memberikan kebahagiaan, maka kualitas cinta menjadi sangat luhur. Seseorang dalam mencintai bukan lagi ingin memiliki atau mengikat orang yang dicintainya. Semakin seseorang mencintai, semakin besar pula kebebasan yang ia berikan agar orang yang dicintainya berbahagia. Cinta yang memberi akan menjadi cinta yang bebas dari kecemburuan maupun pertentangan. Cinta yang memberi adalah cinta yang penuh kebahagiaan untuk kedua belah fihak. Cinta yang memberi dapat disebut sebagai cinta yang sejati. Cinta yang bebas dari kepura-puraan dan kesedihan. Cinta yang memberi dalam Karaniyametta Sutta disamakan dengan cinta seorang ibu kepada anaknya yang tunggal. Penuh pengorbanan namun tanpa tuntutan

sumber :http://www.ngobrolaja.com/showthread.php?t=35302

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Yang Mampir

  • 45,121
%d blogger menyukai ini: